MITRA PILIHAN ANDALAN KESEHATAN KELUARGA | Telp : 021 - 5422 0811 | Gawat Darurat : 021 - 5422 0818 *** Telah Di buka Klinik Spesialis Hari Minggu, Jam 10.00 - 13.00 WIB, Klinik Spesialis Kebidanan - Kandungan, Klinik Spesialis Anak dan Klinik Penyakit Dalam

Indikator Mutu RS St. Carolus Summarecon Sepong

 

INDIKATOR MUTU RS ST CAROLUS SUMMARECON SERPONG - 2018

 1. Pengkajian Keperawatan Pasien Rawat Inap

2. Ketersediaan Obat Formularium

3. Pelaporan Nilai Kritis

4. Ketepatan Waktu Dimulainya Operasi Elektif 

 


 1. Pengkajian Keperawatan

Asuhan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, meliputi kebutuhan biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang diberikan langsung pada klien.
Proses keperawatan sebagai alat bagi perawat untuk melaksanakan asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien memiliki arti penting bagi kedua belah pihak yaitu perawat dan klien. Sebagai seorang perawat, proses keperawatan dapat digunakan sebagai pedoman dalam pemecahan masalah klien, dapat menunjukkan profesi yang memiliki profesionalitas yang tinggi, serta dapat memberikan kebebasan pada klien untuk mendapatkan pelayanan yang cukup sesuai dengan kebutuhannya.
Langkah-langkah dalam proses keperawatan meliputi:
1. Pengkajian
2. Diagnosis,
3. Perencanaan
4. Pelaksanaan
5. Evaluasi
Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan dikumpulkan secara terus menerus, tentang keadaan pasien untuk menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Data kesehatan harus bermanfaat bagi semua anggota tim kesehatan. Oleh karenanya, pengkajian keperawatan sebagai langkah pertama sangat penting untuk menentukan langkah berikutnya.
Pengkajian pasien meliputi :
a. Pengumpulan data
dengan kriteria : menggunakan format yang baku, sistematis, diisi sesuai item yang tersedia, aktual (baru), absah (valid).
b. Pengelompokan data
dengan kriteria : data biologis, data psikologis, data sosial, data spiritual.
c. Perumusan masalah
dengan kriteria : kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan pola fungsi kehidupan, perumusan masalah ditunjang oleh data yang telah dikumpulkan.
RS St Carolus Summarecon Serpong mempunyai indikator untuk mengukur semua pengkajian pasien baru yang terisi lengkap dalam waktu 1 x 24 jam sesuai dengan standar Komisi Akreditasi Rumah Sakit.

 
Capaian pengkajian keperawatan terisi lengkap dalam waktu 1 x 24 jam

 

 

2. Ketersediaan Obat Formularium

Pelayanan kefarmasian merupakan bagian integral dalam pelayanan rumah sakit. Rumah sakit memastikan bahwa setiap obat atau alat kesehatan yang dibutuhkan dalam pelayanan di rumah sakit selalu tersedia dan dalam kondisi yang baik. Karena itu Rumah Sakit perlu menjamin aksesibilitas obat yang aman, berkhasiat, bermutu dan terjangkau dalam jenis dan jumlah yang cukup.
Rumah Sakit St Carolus Summarecon Serpong menyusun daftar obat-obatan yang tersedia di Rumah Sakit, yang disebut sebagai formularium. Definisi Formularium rumah sakit adalah suatu dokumen yang selalu dimutakhirkan, yang berisi kumpulan sediaan obat terpilih dan informasi pendukung penting lainnya yang merefleksikan pertimbangan klinik mutakhir dari staf medik di rumah sakit dan direvisi secara terus menerus.
Formularium obat di rumah sakit perlu disesuaikan dengan pola penyakit di rumah sakit dan jenis tindakan yang dilakukan di rumah sakit. Namun dalam kondisi khusus, dokter dapat meresepkan obat di luar formularium, sesuai dengan kasus yang dihadapi.
RS St Carolus Summarecon Serpong menjadikan indikator ketersediaan obat sesuai formularium sebagai salah satu indikator area klinis, dimana setiap bulan indikator ini dipantau dan bila terjadi kekosongan obat formularium akan dicari penyebabnya dan dianalisa.
 

Indikator ini baru mulai dipantau bulan Mei 2018.
Sejak mulai dipantau, ada beberapa obat dalam formularium yang tidak tersedia karena :
• Obat kosong dari distributor obat
• Ada obat yang ijin edarnya dicabut oleh Kementerian Kesehatan
• Obat-obat slow moving dan dead stock yang jarang diresepkan dokter, sehingga bag. Farmasi tidak memesan obat tersebut

 

 3. Pelaporan Nilai Kritis

Nilai kritis laboratorium adalah hasil pemeriksaan diluar rentang normal yang menunjukkan adanya gangguan fungsi tubuh yang harus dilakukan penanganan segera karena mengancam jiwa. Bila petugas laboratorium menemukan adanya nilai kritis dalam hasil pemeriksaan laboratorium pasien maka harus segera dilaporkan kepada Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP), kemudian didokumentasikan dalam buku berisi tanggal, identitas pasien, RM, hasil nilai kritis, waktu keluar hasil, waktu pelaporan, nama pelapor, nama penerima laporan, paraf.
Pelaporan nilai kritis merupakan salah satu indikator mutu pelayanan laboratorium klinik di RS St Carolus Summarecon Serpong. Standar yang ditetapkan di RS St Carolus Summarecon Serpong adalah 95% nilai kritis dilaporkan ke DPJP dalam waktu 30 menit setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

 

Capaian pelaporan nilai kritis laboratorium bulan Januari – September 2018

Dari grafik diatas tampak bahwa capaian pelaporan nilai kritis sudah diatas target. Capaian pelaporan nilai kritis ini harus tetap dipertahankan, karena sangat berperan dalam peningkatan keselamatan pasien dan mutu pelayanan Rumah Sakit.
Upaya yang sudah dilakukan di laboratorium untuk meningkatkan pelaporan nilai kritis yakni dengan melakukan :
• Sosialisasi berkesinambungan pada saat briefing operan shift dan rapat bulanan
• Meningkatkan monitoring pelaksanaan pelaporan nilai kritis
• Kerjasama dari unit pelayanan terkait agar pelaksanaan pelaporan nilai kritis laboratorium sesuai dengan standar pelayanan operasional yang sudah ada.
 

4. Ketepatan Waktu Dimulainya Operasi Elektif

Operasi elektif, adalah suatu tindakan bedah yang dilakukan terjadwal dengan persiapan, dan dilakukan pada pasien dengan kondisi baik, bukan gawat darurat. Contohnya operasi caesar yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari.
Memulai operasi elektif yang tepat waktu merupakan indikator dari mutu pelayanan kamar bedah di RS St Carolus Summarecon Serpong, khususnya dalam efisiensi dan kerja.

Penundaan operasi elektif disebabkan beberapa faktor, antara lain :

1. Faktor pasien :

  • Pasien direncanakan operasi pagi hari, pasien datang tengah malam dalam kondisi belum dilakukan pemeriksaan penunjang
  • Karena kondisi klinisnya, pasien perlu dikonsultasikan ke dokter spesialis lain sebelum operasi
  • Pasien dengan hasil pemeriksaan penunjang yang tidak memenuhi syarat untuk dilakukan operasi, seperti kadar Hb yang rendah sehingga memerlukan transfusi darah.
  •  Pasien terlambat datang ke kamar bedah (terutama pasien rawat jalan)

2. Faktor petugas :

  • Ada operasi cito yang perlu didahulukan
  • Operasi memerlukan kolaborasi dari beberapa dokter spesialis, sehingga masih menunggu tim operasi lengkap

3. Faktor administrasi :

  • Administrasi belum lengkap, terutama yang berhubungan dengan jaminan keselamatan

4. faktor fasilitas :

  • Waktu operasi sebelumnya memanjang
  • Alat untuk operasi orthopedi terlambat dikirim ke RS oleh vendor

 

Capaian indikator mutu ketepatan waktu operasi elektif
 

 

Berita

Agenda Bulan Ini